KARIA ILMIAH

Minggu, 29 Januari 2012

Review FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Judul Buku : FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Penulis : Dra. Zuhairini, dkk
Penerbit : Bumi Aksara
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 1992
ISBN : 979-526-084-7
Halaman : 208


Buku Filsafat Pendidikan Islam hasil karya Dra. Zuhairini dkk, menjelaskan tentang kajian-kajian yang ada dalam filsafat pendidikan Islam. Filsafat tidak bisa lepas dari dari kehidupan manusia, karena sejarah filsafat erat kaitannya dengan sejarah manusia pada masa lalu. Filsafat yang dijadikan sebagi pandangan hidup, erat kaitannya dengan nilai-nilai tentang manusia yang dianggap benar. Disini akan dibahas secara mendalam tentang fisafat Islam dari bebrapa aspek yang terdiri dari :
Bagian Petama : Kedudukan Filsafat Dalam Kajian Pendidikan.
BAB I.
Pada Bab pembahasan ini menampilkan pengetian Filsafat ditinjau dari berbagai aspek, baik dari aspek bahasa, termenologi, sampai kepada aspek pengertian menurut pendapat para tokoh filosof baik muslim maupun barat.
Dalam memberikan pengertian filsafat menurut para ahli filsafat, Zuhairini dkk mengambil pendapat Sidi Gazalba yang meninjau term flsafat dengan menampilkan beberapa tokoh diantaranya: Plato, Aristoteles, Kant, al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi dan para filosof lainnya.
Selanjutnya buku ini menjelaskan perkembangan filsafat secara ringkas dalam bentuk piramida yakni keadaan filsafat dari konteks kekinian kemudian dijelaskan dalam konteks masa lalu. Walaupun pada akhirnya kembali lagi kepada keadaan kekinian (realitas filsafat saat ini).
Yang perlu dikritisi pada bagian ini adalah alinea terakhir pada halaman 8 yang menjelaskan bahwa filsafat telah berkembang dan berubah fungsinya dari sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of science) menjadi perekat kembali berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat yang menjadi terpisah satu dengan lainnya. Padahal kata perekat kembali dalam konteks realitas filsafat yang sudah menjadi berbagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri-sendiri dan tidak lagi berhimpun satu dalam filsafat adalah tidak tepat. Karena kata perekat adalah menyatukan kembali; sementara kontradiksi dengan realita yang dialami oleh filsafat yang sudah banyak berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu sebagai konsekuensi dari perkembangan filsafat.
BAB II. Analisa Filsafat dan Teori Pendidikan
Pada bab ini menampilkan dua sub pokok bahasan yakni analisa filsafat dalam masalaha pendidikan dan yang kedua adalah filsafat dan teori pendidikan.
Yang menarik dalam pandangannya adalah bahwa pendidikan formal disekolah hanyalah bagian kecil saja daripadaanya, tetapi merupakan inti dan tidak bisa lepas kaitannya dengan proses pendidikan secara keseluruhan.
Dalam uraian selanjutnya bahwa ternyata pendidikan saat ini telah berhadapan dengan berbagai macam problem sehingga memerlukan bantuan berbagai disiplin ilmu untuk memecahkannya. Dalam pada ini ditampilkan beberapa contoh yang realistis dan salah satunya adalah “apakah hakikat pribadi manusia itu?”.
Dalam menghadapi problem-problem yang muncul sedemikian itu, Zuhairini dkk mencoba memecahkannya dengan beberapa pendekatan diantaranya : pendekatan spekulatif, pendekatan normative, pendekatan analisa konsep, pendekatan analisa ilmia.
Pada sub pokok bahasan kedua, dikemukakan hubungan fungsional antara filsafat dengan teori pendidikan : yang intinya adalah: pertama, filsafat sebagai pisau analisis merupakan salah satu cara pendekatan yang dilakukan oleh para ahli pendidikan dalam memecaahkan problem pendidikan. Kedua, Filsafat berfungsi arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Ketiga, filsafat juga mempunyai fungsi memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori ilmu pendidikan.
Bab III. Aliran-aliran dalam Filsafa Islam
Pada bab ini membahas perkembangan pemikiran dunia filsafat pendidikan dalam perspektif aliran-aliran filsafat pendidikan yakni: a)Aliran Progressivisme b)Aliran Essensialisme c)Aliran Perenealisme d) Aliran Rekonstruksinalisme e)Aliran Eksistensialisme.
Bagian Kedua : Konsep Islam Tentang Alam Dan Kehidupan Manusia
BAB IV. Hakikat dan Pengertian Islam
Bab ini dimulai dengan menampilkan pengertian Islam baik secara Etimologi maupun termenologi. Selain pengertian pada bab ini juga menampilkan sub Pokok bahasan diantaranya :
a. Islam sebagai gejala alami yang universal,
b. Islam Sebagai Agama Universal dan Eternal,
c. Islam sebagai sumber Ilmu Pengetahuan, dan
d. Pandangan Islam tentang Filsafat.
Dalam pembahasan ini dipaparkan bahwa pandangan Islam dalam hal ini ulama muslim lebih sepakat dengan pendapat salah satu guru filsafat Meisir yaitu DR. Ahmad Fuad al-Ahwani yang mengatakan bahwa filsafat itu sesuatu yang terletak diantara agama dan ilmu pengetahuan. Namun demikian juga dijelaskan bahwa ada segolongan ulama terutama ulama salaf yang walaupun tidak keberatan dengan pendapat ahwani, namun mereka tidak sependapat dengan adanya filsafat dalam Islam. Alasannya saangat jelas, bahwa filsafat dianggap bid’ah bahkan dapat menyesatkan.
BAB V. Hakikat Manusia
Bab ini menampilkan dua sub pokok bahasan yakni; pertama, berbagai pemikiran tentang hakikat manusia yang menampilkan 4 aliran yaitu: aliran serba zat (sesungguhnya yang ada itu hanyalah zat/materi), aliran serba ruh (Hakikat yang ada didunia ini hanyalah ruh), aliran dualisme (hakikat manusia terdiri dari zat materi dan ruh) dan aliran eksistensialisme (eksistensi wujud manusia sesungguhnya). Kedua, pandangan Islam tentang hakikat manusia. Dalam pandangannya diuraikan bahwa sesungguhnya manusia itu terdiri dari dua substansi yakni materi yang beraasal dari bumi dan ruh yang berasal dari Tuhan. Pandangan ini diambil berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits.
BAB VI. Manusia dan Alam
Bab ini memaparkan hubungan manusia dengan alam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tetapi bukan berearti manusia bukan seperti pribadi yang dari alam sekitarnya, melainkan bersama-sama dengan alam sekitarnya. Manusia diberikan potensi-potensi untuk mengelola alam untuk keperluan hidupnya. Dengan itulah para ahli filsafat memberikan sebutan kepada manusia seperti : homo sapiens (makhlik yang mempunyai budi), animal rational binatang yang berpikir), homo laquen (makhluk yang mencipta bahasa) dll.
Selain itu, dikemukakan juga pandangan Islam tentang alam serta kedudukan manusia dalam pandangan islam. Namun dalam pembahasannya tidak menampikan hal yang baru karena hanya terpaku pada pandangan yang bersifat normative saja sebagaimana pada umumnya. Kedudukan manusia dijabarkan kedalam tujuh poin yang menurut saya adalah penjabaran dari dua kedudukan manusia yakni sebagai Abdullah dan khalifatullah. Penulis buku ini nampaknya tidak sistimatis karena pada poin 3 disebutkan kedudukan manusia sebagai khalifatullah namun tidak menampilkan secara jelas kedudukan manusia sebagai abdullh.
BAB VII. Konsep Islam Tentang Kehidupan Manusia
Dalalm bab ini membahas dua hal yaitu; pertama, pendidikan sebagai gejala dan kebutuhan manusia, apenulis menyoroti bahwa pendidikan adalah keniscayaan bagi manusia. Alasannya adalah manakala manusia tidak diberi pendidikan (dalam semua dimensi) maka manusia tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti. Penulis mengutip pendapat salah satu tokoh yang berpendapat sama yakni Emmanuel Kant yang mengatakan bahwa manusia dapat menjadi manusia karena pendidikan. Kedua, pandangan Islam tentang pendidikan. Ada beberapa ayat yang dikutip dalam menegaskan pandangan islam tentang pendidikan diantaranya QS. At-Taubah ayat 122, al-Maidah ayat 67 serta beberapa ayat yang lainnya yang intinya Islam mendorong umatnya untuk menjadi umat yang pandai. Sekali lagi dapat dikritisi bawah hanya menuangkan landasan normative saja sebagai argument tanpa ada pandangan lain secara argumentatif.
Bagian Ketiga : Filsafat Pendidikan Islam Sebagai Suatu Sistem
BAB VIII Filsafat Islam dan Pendidikan
Bab ini menjelaskan bahwa filsafat dan berfilsafat dalam dunia Islam sudah dikenal dan bahkan sudah dikerjakan sebealum istilah filsafat dan bukunya di pelajari dan diterjemahkan oleh para filosof muslim. Hal ini karena filsafat di dalam Islam sering dipakai bergantian dengan kata al-Hikmah, sementara al-Hikmauh sumber utamanya ada dalam al-Qur’an.
Selain penjelasan asal kata filsafat dalam Islam, bab ini juga menguraikan beberapa hal diantaranya:
a) Sistem filsafat dalam islam
b) Pendidikan dan Filsafat Islam
c) Filsafat Pendidikan Islam
Selanjutnya diuraikan bahwa untuk mngetahui jawaban hakikat , yang ada dan problem lain yang dihadapi manusia tentunya diperlukan pemikiran yang mendalam (dalam siatilah filsafat) atau Ijtihad dalam istilah Islam.
BAB IX. Metode dan Peranan Filsafat Pendidikan Islam
a) Metode Filsafat Pendidikan Islam
Disini dikemukakan bahwa metode yang digunakan dalam memecahkan problem yang dihadapi pendidikan dalam Islam adalah: metode spekulatif dan komparatif, Pendekatan normative, analisa konsep, pendekatan histori, pendekatan ilmiah dengan menampilkan satu ayat al-Qur’an, pendekatan dalam system filsafat Islam.
b) Peranan Filsafat Pendidikan Islam
Disini diuraikan secara singkat peranan filsafat pendidikan Islam diantaranya: pertama, meberikan solusi jawaban atas problema pendidikan Islam, kedua, memberikan pandangan tertentu tentang manusia menurut Islam, ketiga, menjelaskan tentang adanya fitrah (potensi bawaan) yang harus dikembangkan dalam diri manusia. Keempat, memberikan informasi pendidikan islam yang ideal.
BAB X. Perkembangan dan Pemikiran-Pemikiran Baru dalam Pendidikan Islam
1. Perkembangan pemikiran/filsafat pendidikan Islam
Pada bagian ini memaparkan bagaimana perkembangan pemikiran maupun filsafat Islam. Setidaknya ada dua aliran yang memiliki pandangan berbeda mengenai freedom of free manusia yakni Jabariyah dan Qadariyah dengan argument masing-masing. Pada sisi lain juga dijelaskan bahwa selain karena kedua aliran tersebut yakni Jabariyah dan Qadariyah yang memulai munculnya perbedaan pandangan juga munculnya berbagai aliran dalam pemikiran Islam bermula dari perbedaan pandangan filosofis tentang kalam Allah, hakikat iman dan dosa besar dan lain-lain. Perbedaan pandangan yang mencolok dalam hal ini adalah antara Asy’ariyah dengan Mu’tazilah.
2. Pemikiran-pemikiran baru dalam pendidikan Islam
Dalam sub ini digambarkan bahwa perkembangan pemikiran Islam dalam tataran filosofis terbagi dua yakni pandangan filosofis yang sufistis dan pandangan filososfis yang rasinalis. Kedua pandangan ini berebut pengaruh sehingga pandangan filosofis sufistis mendapat apresisasi pada aumat Islam dibagian timur. Sementara umat Islam dibagian barat lebih condong kepada pandangan fislosofis yang Rasionalis. Dibagian timur nampaknya terpengaruh oleh pemikiran yang dikembangkan oleh Imam Al-Gazali. Sementara dibagian barat lebih mengikuti pengaruh pemikiran Ibnu Rusyd.
Implikasi dari dua apresiasi yang berbeda dikalangan Umat Islam melahirkan kesenjangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat dalam hal ini ternyta lebih maju sehingga terjadilah penjajahan barat terhadap dunia timur. Ini berarti bahwa filosofis rasionalis yang dicetuskan oleh Islam mengalahkan filososfis sufistis yang juga dikembangkan oleh Islam. Namun demikian dijelaskan juga bahwa pada abad 19 mulailah dunia Islam bergeliat bangkit dari ketertinggalan ditandai dengan munculnya pemikiran pembahwaru dalam dunia Islam seperti Muhammad Ali Pasya dimesir dan gerakan Turki Muda di Turki dll.
Bagian Keempat: Konsep-konsep Filosofis Tentang Pendidikan Islam
BAB XI, Arti, Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
a. Konsep filosofis tentang arti pendidikan Islam.
Dalam sub ini dijelaskan berbagai pengetian pendidikan dengan berbagai pandangan tokoh pendidikan. Namun term pendidikan disini masih secara umum karena belum mengarah kepada pendidikan Islam itu sendiri. Dalam hal ini pndidikan Islam sendiri diartikan sebagai usaha yang diariahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran Islam sehingga segala aktivitasnya tercermin nilai-nilai Islam.
b. Analisa tentang Dasar-dasra Pendidikan Islam
Disini dungkapkan ada dua dasar pendidikan Islam yang paling mendasar yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Adapun urutan prioritas pendidikan tersebut adalah Pendidikan keimanan, pendidikan akhlakul karimah, dan pendidikan ibadah.
c. Analisa tentang Tujuan Pendidikan Islam
Secara umum tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhir. Dalam hal ini penulis buku mengungkapkan tidak cukup dengan tujuan tersebut karena sangat normative dan belum operatif. Oleh sebab itu perlu dirnci dalam btuk tujuan khusus dan tujuan umum sehingga dengan demikian dapat tergambar secara luas yang dikehendaki oleh pendidikan Islam.
BAB XII: Konsepsi Islam mengenai beberapa Faktor Pendidikan
a. Konsepsi Islaam tentang Pendidikan.
Dalam uraian ini dipaparkan beberapaa syarat bagi seorang pendidik. dalam hal ini harus ditinjau kembali dengan kondisi kekinian karena nampaknya akan menjadikan orang tertentu termarginalkan sebab tidak cukup syarat. Hal ini juga bertentangan dengan free distination yang dikembangkan melalui pendidikan inklusif.
b. Konsepsi Islam tentang anak
Disini ditampilkan sebuah hadits Rasul sebagai landasan bahwa anak bagi islam memiliki berbagai firtah. Oleh karena itu orang tua berperan penting dalam pengembangannya. Fitrah yang ada sebaiknya pertamakali dikembangan dengan kehidupan beragama sebagai basic kontrolnya.
c. Konsepsi Islam tentang Lingkungan, dalam pandangan Islam lingkungan sangat berperan dalam pembentukan peserta didik.
d. Konsepsi Islam tentang lembaga Pendidikan, yang dimaksud disini adalah lingkungan keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama, sekolah sebagai foloow up dari pendidikan keluarga, dan yang terakhir adalah masyarakat dengan berbagai ragam dan bentuknya.
e. Konsepsi Islam tentang Alat Pendidikan, alat pendidikan yang dimaksud adalah segala tingkah laku atau perbuatan teladan, anjuran atau perintah, larangan, dan hukuman.


BAB XII: Konsepsi Islam tentang Pribadi Muslim
a. Kepribadian Muslim, dalam hal ini dijelaskan bahwa kepribadian muslim yang dimaksdukan adalah keperibadian yang juga sesuai dengan tujuan kepribadian yang dikehendaki oleh Negara Indonesia yakni kepribadian manusia yang seutuhnya.
b. Konsep Tentang Sifat-sifat Manusia, terdiri dari manusia sebagai individu, manusia sebagai social, dan manusia dalam tataran moral dan terakhir adalah manusia sebagai makhlik bertuhan
c. Konsepsi Tentang Pribadi Muslim, dalam hal ini dipaparkan pribadi muslim yang sesuai dengan al-Qur’an terdiri dari 14 poin yang intinya adalah cerminan dari iman, akhlak dan ibadah (baik mahdha maupun ghairu mahdha). Daqlam hal ini juga diungkapkan beberapa cirri sifat seorang muslim yakni : sidiq, amanah, sabar, ittihad, ihsan, ri’ayatul jiwar, wafa bil ahdi, tawasau bilhaq, ta’awun, athfi alad-dha’if, muwasatil faqier, serta rifqi.
Semua ciri tersebut sebenarnya juga tercermin dalam pribadi muslim yang sesuai dengan yang dikehendaki dalam tujuan akhir pendidikan Islam didunia ini. Tentunya implikasi yang diharapkan adalah kebahagian diakhirat kelak.
Banyak sekali hal-hal yang yang menarik pada buku ini, yang belum kami dapatkan dari buku lain. Namaun cukuplah jelas apa yang disampaikan dan mudah dipahami dengan bahasa yang ringkas dan lugas sehingga mudah dicermati oleh para pembacanya.
Tidak lupa dalam buku ini juga memaparkan para pemikir filsafat pendidikan Islam sebagai khasanah keilmuan bagi para pembancanya seperti Aristoteles, kant, al-Farabi, Ibnu Maskawayh, dan lainnya sampai pada pemikir filsafat Nusantara. Juga membeberkan karangan-karangannya yang telah membawa kejayaan bagi dunia pendidikan Islam.
Saya mendapatkan banyak mendapatkan manfaat dan khasanah keilmuan dari buku karangan Dra. Zuhairini, dkk. Satu kaya besar yang telah di tulis olehnya, untuk para pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO BELAJAR

Islam memperkenankan kepada setiap muslim meraih ilmu kimia, biologi, astronomi, kedokteran, industri, pertanian, administrasi, dan kesektariatan, dan sejenisnya dari orang non muslim atau orang mulim yang tidak percaya ketakwaannya. Hal itu boleh dengan syarat tidak ditemukannya seorang muslim yang terpercaya keagamaan dan ketakwaannya yang dapat diambil ilmu darinya.